Jelajah Surga di Bentaran Timur Indonesia

Kita punya negara yang besar dan indah, tetapi seringkali kita tidak tahu kekayaan keindahan alam yang tersembunyi di dalamnya. Mari melihat Indonesia bagian timur lebih dalam dan menjelajahi surga di bentaran timur negeri kita.
Perjalanan kita akan dimulai dari propinsi di timur Indonesia yaitu  Pulau Nusa Tenggara Timur (NTT). Sama halnya perjalanan dari tim RoFA yang berawal dari Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Lembata, Timor, Sabu, Sumba, Sumbawa, Lombok dan berakhir di Bali.

Ada pepatah yang mungkin sudah seringkali kita dengar atau mungkin sampai kita bosan begitu mendengarnya, “Tak kenal maka tak sayang”. Tapi di balik pepatah tersebut memang benar adanya kalau kita tidak mengenal kita tidak sayang. Oleh karena itu mari perjalanan ini kita mulai dari prinsip Bapak Youk Tanzil, founder sekaligus Executive Producer RoFA “Mari melihat, mengenal, mengerti dan mencintai tanah air kita” khususnya dalam coretan ini Pulau Nusa Tenggara Timur.

Nusa Tenggara Timur adalah sebuah propinsi Indonesia yang terletak di bagian tenggara Indonesia. Propinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antara lain Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Komodo dan Pulau Palue. Ibukotanya terletak di Kupang, di bagian barat pulau Timor. Nah kita akan menjelajah pulau-pulau di atas. Karena ibukotanya ada di Kupang, mari kita mulai perjalanannya dari sini.
Secara garis besar gambaran dari Propinsi NTT adalah seperti di peta berikut

nttt

Propinsi NTT (sumber gambar : Google Map)

Propinsi NTT Yang Penuh Warna

Perjalanan kita mulai dari Bandar Udara El Tari Kupang. Di bandar udara ini perlu kita diketahui ada beberapa pesawat yang mungkin baru kita kenal namanya. Sekalian agar kita tahu. Beberapa airlines yang beroperasi diantaranya Batik Air, Citilink, Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air yang sudah sering kita dengar dan sangat hafal jika sering melakukan perjalanan melalui udara. Tetapi ada beberapa pesawat yang namanya mungkin belum kita dengar seperti Kalstar Aviation yang mempunyai destinasi penerbangan  Ende, Maumere, Labuan Bajo, Makassar, ada pesawat Nam Air dengan tujuan Alor, Ende, Ruteng, Bajawa, Lewoleba, Waingapu, Larantuka, dan masih banyak lagi, jadi kita punya gambaran bahwa di Pulau NTT ternyata mempunyai banyak bandar udara. Dari sini kita telah mempunyai gambaran singkat bahwa NTT punya banyak warna, dimulai dari bandar udaranya, sejarahnya, tradisi, keindahan alam dan unsur kemanusiaan yang akan kita dalami.

el_tari_airport-1

Bandar Udara El Tari, Kupang (sumber gambar : Google)

Dari bandar udara El Tari Kupang kita akan menuju ke Kabupaten Timor. Di Kabupaten Timor kita akan berkunjung sejenak melihat kota Soe. Perjalanan memerlukan waktu kurang lebih 2 jam 26 menit untuk tiba di kota Soe, Kabupaten Timor.

Soe, The Freezing City and The Cold Waterfall Love

Kota Soe, Kabupaten Timor biasa disebut “The Freezing City” atau “Kota Membeku” karena cuaca di kota ini jauh lebih dingin dibandingkan kota lainnya di Pulau Timor. Kota ini berjarak 110 km dari Kupang, atau sekitar 185 km dari Atambua. Kota Soe sangat dingin karena berada 900 meter di atas permukaan laut. Suhu paling dingin dapat terjadi pada bulan Juni-Juli. Kalau kita datang pada bulan Juni-Juli tersebut, maka saat sore pun semua orang sudah masuk rumah karena sangat dingin jika berada di luar. Iklim di Soe sangat dipengaruhi oleh Australia.

Yang menarik di Kota Soe ini, tepatnya di pinggiran kota, terdapat air terjun cantik dan indah yang bernama Air Terjun Noelaku. Air terjun yang berlokasi di pinggiran Kota Soe dengan waktu tempuh untuk mencapai tempat ini yaitu sekitar 20 menit, masih jarang dikunjungi oleh pengunjung karena akses jalan menuju lokasi tersebut masih tergolong sulit.

Sejarahnya, menurut orang-orang tua di desa sana, salah seorang berkata “Air terjun ini adalah dahulu tempat mandinya para raja Timor yang berperang melawan penjajah baik pada zaman Belanda, Jepang maupun Portugis. Tempat ini sangat bagus buat persembunyian, karena letaknya sangat jauh dari permukiman warga” . Maka dari itu, air terjun ini memang sulit dijangkau dan jauh dari pemukiman warga.

Air terjun ini terbilang unik karena kolam tempat menampung air berbentuk jantung yang disebut pengunjung, “Waterfall Love”. Sehingga beberapa orang menyebut sebagai air terjun Noelaku, yang lain langsung menyebut Waterfall Love. Belum banyak orang yang mengenal tempat ini namun belakangan mulai ramai dikunjungi masyarakat Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan ini. Sebelum tiba di lokasi, anda akan di manjakan dengan pemandangan bukit yang berjejer rapi di kiri-kanan jalan.

air-terjun-noelaku-ntt

Air Terjun Noelaku, Pulau Soe (sumber  gambar: google)

Waterfall Love berjarak sekitar 50 meter dari tempat parkir yang hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah perkebunan milik warga setempat. Gemuruh aliran air akan terdengar jika anda sudah mendekati lokasi air terjun. Biasanya pengunjung langsung penasaran dan mempercepat langkah kakinya agar segera melihat air yang jatuh bergemuruh itu. Banyak pohon-pohon yang menambah kecantikan lokasi air terjun ini. Terdapat juga kolam yang menampung air terjun dengan lebar kolam sekitar 4 meter dan kedalaman mencapai 3 meter. Pengunjung bisa sepuas-puasnya menikmati udara, menikmati segarnya air dingin nan segar dalam kolam dan menikmati pemandangan sekitar air terjun. Memang, tempat yang bisa menenangkan jiwa, inilah karya agung Yang Maha Kuasa.

Dari air terjun di Kota Soe ini, selanjutnya kita akan menjelajah ke tempat lain yang juga tidak kalah indah, Ya, Gunung Mutis di Timur. Perjalanan menuju Gunung Eksotis ini kurang lebih ditempuh dalam 1 jam 43 menit.

gunung-mutis

Peta Perjalanan dari kota Soe ke Gunung Mutis (sumber gambar : Google Map)

 

Gunung Mutis, Titik Tertinggi yang Eksotis

Gunung Mutis berjarak sekitar 40Km sisi utara dari kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Gunung Mutis merupakan titik tertinggi di Pulau Timor dengan ketinggian 2,427 meter di atas permukaan laut. Walaupun Pulau Timor adalah pulau yang gersang, tapi keindahan alam yang menakjubkan dari Gunung Mutis seolah membuat kita lupa akan panas dan gersang yang ada.

Gunung Mutis berada di wilayah Kecamatan Fatumnasi dan Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) serta Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ada beberapa pintu masuk menuju cagar alam ini tapi yang paling dekat dan paling mudah dijangkau adalah melalui Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi. Desa ini jaraknya sekitar 33 km dari Kota Soe. Kira-kira untuk mencapai tempat tersebut kita memerlukan waktu selama 1 jam 44 menit.

aaaaa

Peta Arah dari Kota Soe ke Desa Fatumnasi (sumber gambar : google map)

Desa Fatumnasi adalah desa yang dihuni Suku Dawan (salah satu suku asli Pulau Timor) ini, berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Mutis. Udara di Fatumnasi terasa sejuk karena desa ini terletak tepat di kaki Gunung Mutis. Fatumnasi berasal dari kata Fatum dan Nasi. Fatum artinya batu dalam Bahasa Dawan, dan Nasi konon katanya banyak batuan di desa ini yang bentuknya mirip beras. Jadi memang di Desa Fatumnasi ini kita banyak menjumpai batu-batu kecil yang bentuknya seperti butiran beras.

Desa Fatumnasi dikenal orang sebagai Alpennya Indonesia. Karena memang Desa Fatumnasi terletak di dataran tinggi. Jalannya naik turun, berbelok-belok, kadang berlubang, dan berbatu-batu di pinggiran jalannya, tetapi mempunyai keindahan yang luar biasa indah. Dan lagi masyarakat di Desa Fatumnasi merupakan masyarakat yang masih sangat kental dengan adat istiadatnya. Sungguh membuat kita ingin mengenal lebih dalam kehidupan mereka.

“Lopo Mutis”adalah satu-satunya penginapan atau homestay di Fatumnasi yang kerap menjadi jujugan para turis dan peneliti yang ingin menjelajah Cagar Alam Gunung Mutis atau mendaki Gunung Mutis.

lopo
“Lopo Mutis” Homestay di Fatumnasi (sumber gambar: google)

Di tempat ini terdapat aula/pendopo untuk menerima tamu dan turis, rumah utama, 4 rumah untuk kamar tamu (homestay), dan tiga buah rumah adat khas Timor dengan atap terbuat dari ilalang berbentuk kerucut. Rumah ini biasa disebut Ume Kebubu atau Rumah Bulat dalam Bahasa Dawan.

Semua Warga Desa Fatumnasi mempunyai Ume Kebubu selain rumah utama karena dulunya rumah asli warga desa ini memang Ume Kebubu. Dalam Ume Kebubu terdapat benda-benda peninggalan leluhur seperti gelang perak, gelang emas, medali, tombak keramat, gelang kaki dan sebagainya. Sejarahnya, Ume Kebubu dahulu ditempati oleh Raja Molo, sekarang sebagai ahli waris adalah Bapak Matheos Anin (70).

Sekarang, Ume Kebubu dimanfaatkan sebagai dapur dan tempat menyimpan bahan makanan. Ume kebubu memiliki atap yang berbentuk sarang lebah, bangunannya beratap daun ilalang, berlantai tanah, dinding dari anyaman bambu (gedek) serta tidak memiliki jendela.Pintu masuk rendah, kurang dari satu meter. Seiring berjalan waktu, Ume Kebubu banyak yang roboh dan diganti dengan rumah tembok.

 

gunung-mutis-soe-ntt-6

Ume Kebubu di desa Fatumnasi (sumber gambar: google)

ume-kebubu

Seorang Bapak menaiki Ume Kebubu, memperbaiki atas Ume Kebubu (sumber gambar : google)

ume ke.png

Seorang Ibu memasak di dalam Ume Kebubu (sumber gambar : google)

Begitu sampai di desa Fatumnasi biasanya pengunjung disambut dengan bunyi musik dan tarian tradisional. Penarinya adalah anak – anak kecil dan sebagai penabuh musiknya adalah orang – orang tua. Di kaki para penari tersebut terdapat sebuah benda bergemirincing yang makin menambah semarak tarian. Ini sudah menjadi tradisi di Fatumnasi untuk menyambut pengunjung. Kepala Adat di Fatumnasi bernama Matheos Anin yang merupakan ahli waris seperti dijelaskan pada cerita sebelumnya dan beberapa orang disana, mereka sangat ramah kepada pengunjung.Pengunjung juga mendapat cerita dari Bapak Matheos mengenai Ume Kebubu sebagai jantung kehidupan di tempat ini.

Wah serasa di rumah sendiri, belum lagi sudah tergiur keindahan alamnya.. Setelah kepala adat memberi sambutan, biasanya pengunjung diperbolehkan melihat keadaan sekitar “Lopo Mutis”.

img_0874

                                        Penghuni Desa Fatumnasi (sumber gambar : google)

Ada yang menarik lagi di tempat ini, banyak terdapat kain-kain tenun dipajang di sekitar ruangan. Konon, warga di Desa Fatumasi membuatnya dengan tangan sendiri. Warna – warnanya beragam dirajut dengan perpaduan warna seperti hijau dengan putih, merah dengan ungu dan lain-lain. Semua hasil kerajinan tangan mereka sendiri.

img_0882

                               Kain Tenun di Fatumnasi (sumber gambar : google)

Dari sini kita belajar, betapa dalamnya mereka menghargai adat istiadat mereka, mari kita juga menghargai adat seluruh adat istiadat di negeri Indonesia ini.. Ada Surga kecil di Fatumnasi…

Nah, mari kita melanjutkan perjalanan kita. Dari Lopo Mutis ini, kita akan ke objek keindahan alam yang utama yaitu Cagar Alam Gunung Mutis. Kita kembali melanjutkan perjalanan melalui jalanan berbatu di tengah hutan yang luas. Nan hijau. Sesekali terdengar gemericik aliran air dari mata air di Gunung Mutis ini. Awan kabut tipis menutupi pepohonan hutan dan suara burung berkicau bersahut-sahutan.

Hidup Masyarakat Fatumnasi bergantung pada hasil pertanian. Air didapat dari mata air Gunung Mutis ini, tak heran Fatumnasi menjadi daerah penyuplai terbesar di Timor karena air selalu tersedia dan tak pernah habis.

Menyusuri hutan menuju Gunung Mutis, kita juga bisa melihat sekawanan sapi merumput di Cagar Alam Gunung Mutis. Sesekali terdengar lenguhan sapi dan ringkikan kuda di kejauhan.Ya di hutan ini bisa kita jumpai kawanan sapi dan kuda yang tengah merumput di bawah pohon Eukaliptus atau dikenal pohon minyak kayu putih.

Pohon Eukaliptus adalah pohon yang menjulang tinggi puluhan meter dan sudah berumur ratusan tahun. Bila angin bertiup, aroma harum akan keluar dari daun-daun Eukaliptus tersebut. Tanaman eukaliptus (Eucalyptus Urophylla) yang dalam bahasa setempat disebut Ampupu memang vegetasi dominan di Cagar Alam Gunung Mutis. Kayu dengan warna kulit putih begitu kontras dengan hijaunya rerumputan. Tanaman lainnya adalah cendana, rotan paku-pakuan, dan berbagai jenis lumut.

eucalyptus-ca-gn-mutis-2

Pohon Eukaliptus di Cagar Alam Gunung Mutis (Sumber gambar : google)

Di Gunung Mutis ini juga terdapat hutan bonsai yang sering menjadi incaran pariwisata turis mancanegara untuk datang ke tempat ini. Bonsai ini tumbuh di tempat yang lembab sehingga baik musim hujan atau musim kering, pohon-pohon ini tetap dikelilingi lumut. Sungguh kita melihat surga di lembah Gunung Mutis ini. Bahagia yang tak terkatakan, sungguh alam yang menyegarkan mata.

                      13150785_1720358901544409_172469529_n  Hutan Bonsai, Cagar Alam Gunung Mutis (Sumber gambar : google)

kuda

                  Kuda di Cagar Alam Gunung Mutis (Sumber gambar : google)

kudda

              Kuda di Cagar Alam Gunung Mutis (Sumber gambar : google)

Perjalanan kesana, teringat negeri para highlander di benua eropa. Pohon-pohon dengan diameter dua pelukan manusia kokoh berdiri. Hamparan rumput yang mirip karpet hijau di depan mata, benar-benar permadani hijau yang segar dan indah. Bukit-bukit juga nan hijau..semuanya hijau. Walaupun perjalanan tidak semulus jalan tol, seperti Tim Ring of Fire (RoFA) yang sudah kesana, namun rasa lelah tak sebanding dengan keindahan yang ada… Ini Taman Eden kita di Pulau Timor.

rouk2

                     Tim RoFa menuju Gunung Mutis (Sumber gambar : google)

Setelah melalui medan off road di tengah hutan, akhirnya kita akan tiba di sebuah tempat dengan hamparan sabana yang luas dan puncak Gunung Mutis di kejauhan. Tempat ini namanya Pohong Gunung dan merupakan titik awal pendakian ke puncak Gunung Mutis. Para pendaki biasanya memarkir kendaraannya di sini, kemudian berjalan kaki sekitar dua sampai tiga jam menuju puncak Gunung Mutis. “Perjalanan yang sulit, berliku, sepi, mengantarkan kita pada keindahan alam yang luar biasa“. Memang, Gunung Mutis titik tertinggi yang eksotis

gunung-mutissss

Pohong Gunung  merupakan titik awal pendakian ke puncak Gunung Mutis (sumber gambar : google map)

Banyak tempat bisa kita eksplor di Pulau NTT, propinsi kita di Timur. Dari air terjun Noelaku, Cagar Alam Gunung Mutis, nah sekarang kita akan menuju suatu pulau lain yaitu Pulau Lembata, yang terkenal dengan perburuan paus yang kontroversial.

Wisata Alam, Budaya dan Religi Pulau Lembata

Untuk mencapai Pulau Lembata ada banyak alternatif yang bisa kita pakai, dua saja yang disebutkan disini yaitu yang pertama melalui jalur udara, Kupang – Lembata dengan jam penerbangan yang hanya satu kali satu minggu yaitu hari Selasa. Pulang pergi di hari yang sama. Airlines yang melayani hanya Merpati Air Lines dengan suara baling-baling yang merdu bukan Pesawat Boeing 747 yang berisik. Yang kedua jalur udara dari Kupang-Larantuka. Selanjutnya dari Larantuka naik  kapal Cepat Fantasi Express I.

p1010426

Kapal Fantasi Express 1 menuju Pulau Lembata (sumber gambar : google)

untitled

Penyeberangan Tim RoFA di Larantuka yang akan menuju Pulau Lembata (sumber gambar : youtube RoFA)

Bukit Doa Watomiten yang Megah

Di Pulau Lembata kita akan mengunjungi tempat wisata religi yaitu Bukit Doa Watomiten Bour. Bukit doa ini terletak di kawasan perbukitan desa Bour. Dari Lembata kita memerlukan waktu kurang lebih 2 jam untuk mencapai bukit doa ini.

lemabata

Peta Lembata ke Bukit Doa Watomiten Bour (Sumber gambar : google map)

Yang paling menarik dari tempat ini adalah Patung Bunda Maria Segala Bangsa setinggi 7 meter, jika ditambahkan dengan pangkuan, tingginya menjadi 11 meter.Dengan ukuran seperti itu, patung tersebut lantas masuk nominasi menjadi salah satu patung Bunda Maria tertinggi di dunia.

Walaupun kita tidak pernah ke Brazil, paling tidak kita juga bisa melihat patung besar yang tidak biasa kita temui seperti Patung Christ the redeemer di Rio de Janeiro, Brazil. Patung Bunda Maria tersebut berwarna putih tulang dengan tangan terbuka. Patung ini menghadap ke laut, sehingga selain menikmati keindahan patung ini kita juga bisa menikmati keindahan laut yang memukau..laut yang tenang, ditambah lagi keindahan yang tiada tara saat matahari terbenam.

Anda bisa mengabadikan foto disana, bahwa Anda sudah mencapai desa Bour Lembata tempat patung Bunda Maria berada, banyak sudut-sudut menarik untuk pengambilan foto dibantu dengan pesona laut Pulau Lembata ini.

bkt

Patung Bunda Maria tampak depan (sumber gambar: youtube, RoFA)

bukit-doa

Patung Bunda Maria tampak belakang (sumber gambar: youtube, RoFA)

Bukit Doa Watomiten terdiri atas 14 tempat perhentian (stasi) jalan salib yang menggambarkan perjalanan Yesus  dari sengsara sampai Yesus wafat di kayu salib dan dimakamkan. Stasi pertama, kisah Yesus dihukum mati dimulai di jalan raya di tepi pantai. Sementara, perhentian terakhir, kisah pemakaman Yesus, berada di atas bukit sekitar 140 meter di atas permukaan laut.

Rombongan peziarah berjalan kaki menuju puncak Bukit Watomiten Bour sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani dan stiap stasi diberkati uskup dengan menyiramkan air berkat. Seluruh pengunjung harus melewati jalan panjang diapit tebing di sisi kiri-kanan. Jalan setapak sekitar lebih dari 1 km pun hanya dipermudah dengan anak tangga dari campuran semen untuk pijakan kaki.

Mari kita belajar sejarahnya, bukit doa itu dulunya hanya sebuah tempat gersang yang ditumbuhi ilalang. Itu seperti sebuah tempat yang sepi tanpa kehidupan.Namun, bukit dengan ketinggian 140 meter di atas permukaan laut tersebut tenjadi tempat doa, sejak Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung  Pr, didampingi  Deken Lembata, Rm. Philipus Sinyo Da Gomez Pr dan sejumlah imam memberkati tempat itu pada 31 Oktober. (sumber : http://katoliknews.com/2016/03/24/bukit-doa-watomiten-bour-pilihan-destinasi-ziarah-iman-di-lembata/)

Seiring berjalannya waktu, karena disokong  segenap jajaran kepemimpinan daerah Lembata, kini tempat Ziarah tersebut tampak lebih indah dibanding dengan sebelumnya. Sekarang bukit ini menjadi wadah doa yang sakral dan tempat ziarah iman bagi umat Katolik.

uskup-larantuka-mgr-fransiskus-kopong-kung-sedang-memberkati-patung-di-kawasan-ziarah-rohani-watomiten-desa-bour-kecamatan-nubatukan-kabupaten-lembata

Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung  Pr, didampingi  Deken Lembata, Rm. Philipus Sinyo Da Gomez Pr dan sejumlah imam memberkati patung di kawasan ziarah Watomiten (sumber gambar : google)

Mari kita menelusuri tempat lain di Pulau Lembata yaitu Gunung Batutara.

Gunung Batutara, Semburan Pasir Lava

Perjalanan berikutnya kita akan menuju Gunung Batutara. Gunung Batutara terletak di Pulau Komba, berlokasi kurang lebih 70km dari Pulau Lembata ke arah Timur Laut.Untuk sampai kesana kita harus naik kapal motor milik nelayan di Lewoleba, ibukota Lembata. Perjalanan naik motor ini kurang lebih 3 jam dan kita akan tiba di tepian Batutara.

Gunung tersebut hanya memiliki tinggi 470 meter di atas permukaan laut, dan secara keseluruhan memiliki tinggi 3.750 meter dari dasar laut. Menurut beberapa artikel gunung ini sering mengeluarkan semburan pasir lava yang seketika menerangi sekitar kawah. Pasir lava tersebut langsung berhamburan dan tumpah ke laut.Hembusan awan kelabu menggumpal di atas kawah. Semburan ini terjadi setiap 20 menit sekali. Untuk melihat fenomena tersebut, waktu yang tepat adalah malam hari atau pagi hari sebelum matahari terbit.

Selain menikmati keindahan Gunung Batutara yang luar biasa, punggung gunung ini juga memiliki daya tarik tersendiri. Punggung yang gagah dan ketinggian yang membuat kita terpesona.

Sungguh, Pesona alam yang luar biasa indah yang tidak mungkin kita jumpai di perkotaan. Letaknya di pulau terpencil jauh dari hingar bingar kota. Inilah surga Gunung Batutara, di Pulau Lembata..

gunung batutara.png

Gunung Batutara di Pulau Komba (Sumber gambar : youtube, RoFA)

img_5877-small

Punggung Gunung Batutara nan gagah (sumber gambar : : http://geospotter.org/1637/batu-tara-pulau-gunung-api-di-lembata-ntt#jp-carousel-1638)

img_5916

Semburan Pasir Lava Gunung Batutara saat malam hari (sumber gambar : : http://geospotter.org/1637/batu-tara-pulau-gunung-api-di-lembata-ntt#jp-carousel-1638)

img_5838-small

Semburan Pasir Gunung Batutara saat malam hari (sumber gambar : : http://geospotter.org/1637/batu-tara-pulau-gunung-api-di-lembata-ntt#jp-carousel-1638)

Lamalera, Berburu Paus Meneriakkan Baleo

Dalam episode kelima tim RoFA melintasi jalur offroad yg penuh dengan lumpur dan kubangan air menuju ke desa Lamalera. Kondisi jalan sangat buruk karena kubangan lumpur sehingga patut berhati-hati melintasi jalan ini.

Lamalera merupakan sebuah desa di Nusa Tenggara Timur yang wajib dikunjungi saat ke Lembata. Desa ini masih mempertahankan tradisi memburu paus dengan menikamnya menggunakan tombak. Tradisi ini masih bertahan hingga sekarang. Tradisi perburuan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Musim perburuan ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, berlangsung pada Mei hingga Oktober.

Tidak seperti yang dilakukan oleh nelayan-nelayan modern Jepang yang memburu kawanan ikan paus dengan kapal-kapal besar dan canggih, nelayan Lamalera hanya menggunakan peledang, yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan, serta sosok lamafa yang memiliki tugas menikam ikan paus menggunakan sebilah tempuling atau tombak.

Untuk mendapatkan paus, nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah samudera Laut Sawu. Mereka tetap beraktivitas di darat, sambil sewaktu-waktu melihat ke lautan. Siapa pun yang melihat paus akan meneriakkan baleo, kemudian disambung bersahut-sahutan memenuhi isi desa.

Adapun jenis-jenis ikan yang biasa ditikam masyarakat Lamalera antara lain :

  1. Paus/Kotoklemah/Paus sperma/Sperm Whale/Physeter macrocephalus
  2. Temu Bela/Lumba-lumba besar / Pilot Whale / Globicephala melaena
  3. Seguni / Ikan ganas / Killer Whale / Orcinus orca
  4. Ikan Mera
  5. Kelaru / Minke Whale / Blaenoptera acutorostrata
  6. Iyu Bodo/Iyu Kiko / Whale Shark
  7. Temu Blure / Lumba-lumba kecil / Dolphins
  8. Moku / Pari kuning
  9. Bou / Pari kecil
  10. Blele / Pari besar
  11. Kebeku / Ikan matahari / mola – mola
  12. Ikan Raja / Tuna
  13. Kea / Penyu

Sumber : IndonesiaIndonesia.com

Masyarakat Lamalera menikam 6 jenis paus yang melewati perairan Laut Sawu. Untuk panjang paus yang mereka tikam sekitar 6 – 13 meter. Bagian yang paling utama dimanfaatkan dari Paus adalah adalah :

  • Daging, warna daging paus adalah kemerahan, layaknya jenis mamalia lain. Biasanya daging – daging tersebut diawetkan dengan bantuan sinar matahari setelah dibubuhi garam.
  • Kulit, kulit paus mempunyai ketebalan berkisar 10 – 20 cm juga diawetkan dengan dijemur di bawah panasnya matahari
  • Minyak, yang diperoleh dari bagian kulit dan lemak otak biasanya ketika kulit di jemur maka minyak akan menetes sedikit demi sedikit, kemudian ditampung. Minyak paus dimanfaatkan sebagai bahan bakar lampu pelita yang tidak menimbulkan efek polusi.
  • Tulang paus sebagai souvenir dan di jual ke wisatawan yang berkunjung ke Lamalera.
  • Gigi, biasa dimanfaatkan sebagai cincin atau kalung
  • Darah paus juga dimanfaatkan masyarakat lamalera sebagai bahan campuran untuk mengolah masakan daging paus.

Perburuan paus di Desa Lamalera, Lembata, merupakan bagian budaya turun temurun dan dilakukan secara tradisional. Walaupun menuai kritik dari para pemerhati lingkungan, namun budaya ini sah di mata internasional.

Pertanyaannya, mengapa perburuan ini disahkan? ternyata  dalam perburuan paus ini, ada seluruh rangkaian budaya dan dimensi sosialitas rakyat Lembata. Menjelang perburuan, diadakan upacara adat sekaligus misa untuk memohon berkah dari sang leluhur serta mengenang para arwah nenek moyang mereka yang gugur bergelut dengan sang paus. Upacara dan Misa dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei.

Begitulah, Lamalera memang tidak bisa dipisahkan dari laut dan paus. Alam rupanya juga senantiasa berpihak kepada masyarakat Lamalera dengan mengantarkan paus ke lautan di hadapan tanah air mereka. Sebab setiap tahun, ikan-ikan paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik selama bulan Mei sampai Oktober. Ketika hewan-hewan laut raksasa melewati laut Sawu tepat di depan pintu pulau Lembata itulah, perburuan ikan paus pun dimulai.

Mari teriakkan Baleo! Baleo!

the first stab of Rufinus Sanga (47) towards 23 meters lenght of sperm whale

Perburuan Paus di Lamalera (Sumber gambar : google)

Tenun Ikat Lembata

Selain melihat keindahan alam dan tradisi di Pulau Lembata, kita akan melihat budaya di Pulau ini yaitu budaya menenun. Tenun lembata mempunyai ciri khas dua tiga sambungan.Kain ini biasa digunakna sebagai mas kawin pihak keluarga perempuan dan ditukarkan dengan gelang-gelang dari daging gajah dari pihak keluarga laki-laki. Semua jenis mas kawin ini sudah dilakukan turun temurun.

Ada dua jenis tenunan kain sarung ikat Lembata yaitu kewatek nai rua dan kewatek nai telhon. Kewatek nai rua adalah kain sarung yang tenunannya terdiri atas dua bagian kain yang digabungkan sementara kewatek Nai Telhon adalah kain yang paling tinggi nilainya. Kain ini terdiri atas tiga bagian yang disambungkan menjadi satu sarung.

yustina-jari-dan-lusia-lepang
Tenun Ikat Lembata (Sumber gambar : google)

Proses Menenun
Untuk menjadi selembar sarung siap pakai, proses yang memakan waktu hingga berbulan-bulan bahkan untuk jenis kain tertentu bisa memakan waktu 1 tahun.

Kendati dewasa ini, penenun dimudahkan dengan hadirnya beragam jenis warna benang. Namun menenun sejatinya dimulai dari proses pemilihan kapas, pemisahan kapas dari biji, pemintalan kapas menjadi benang (tue lelu), perwarnaan, pembuatan motif (bowa mowak), dan bagian terakhir adalah tane tenane (menenun). Biasanya, benang motif berwarna putih agar mudah dilakukan pewarnaan sesuai keinginan sang pengrajin.

Dalam mewarnai benang, pengrajin tenun ikat tradisional masih menggunakan pewarna tradisional yang didapatkan dari alam. Misalnya dengan menggunakan beberapa jenis tumbuhan, seperti akar mengkudu (untuk warna merah), daun nila (warna hitam), pohon hepang, kunyit (warna kuning).

Lengkap sudah kita mengunjungi Lembata, selanjutnya kita akan ke Pulau Flores, berkunjung ke Desa Waerebo.

Meniti Wae Rebo, Menuju Kampung Awan

Letaknya tak terlihat dari keramaian dengan pegunungan hujan tropis dan lembah hijau yang mendekap hangat dusun ini. Melihat pemandangan yang menawan dan menakjubkan memang layak jika kita bayar harga dengan jarak tempuh dan medan yang cukup sulit.

Untuk mengunjungi desa ini, perjalananan akan dimulai dari Labuan Bajo ke Kota Ruteng kemudian ke Desa Denge dan Desa Wae Rebo. dari Labuan Bajo ke Ruteng bisa menggunakan jasa travel, kemudian dari ruteng bisa menggunakan ojek untuk menuju ke Desa Denge. Dari desa denge menuju Desa Wae Rebo ini tidak ada alat transportasi yang bisa digunakan selain berjalan kaki. perjalanannya akan membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan untuk sampai ke Desa Wae Rebo.Untuk barang bawaan ketika mendaki pengunjung bisa menyewa jasa porter untuk mengantar dan membawa barang pengunjung Desa Wae Rebo. Pengunjung akan melewati hutan panjang dikelilingi pepohonan khas hutan Flores disertai suara burung Pacycepala yang amat merdu.

Setelah mendekati desa Wae Rebo, pengunjung akan melewati upacara waelu’u. dimana pengunjung akan membunyikan kentongan atau alat tabuh sebagai penanda datangnya tamu di Kampung Waerebo. Kepala adat di rumah Mbaru Niang akan segera menyambut dengan ucapan selamat datang. Uniknya, sebelum melewati upacara ini pengunjung dilarang mengambil foto karena konon kabarnya apabila melanggar akan ada gangguan atau halangan.

Upacara Waelu’i dilakukan ketika pengunjung sampai di Wae Rebo dan sesudah pulang. Upacara Waelu’u dimaksudkan untuk meminta perlindungan kepada leluhur agar tamu yang datang diberi keselamatan selama di Wae Rebo sampai pulang ke rumah.

 

wae-rebo-0614

Desa Waerebo, yang hijau dan mengagumkan (sumber gambar : google)

Mbaru Niang yang unik

Salah satu daya tarik kampung ini yang sudah mendunia adalah rumah adat yang dilestarikan di kampung ini yaitu Mbaru Niang. Mbaru Niang berjumlah 7 rumah ini telah dihuni turun temurun selama 19 generasi Dalam bahasa Manggarai, Mbaru Niang berarti ‘rumah drum’. Bangunan berbentuk kerucut ini dibangun secara tradisional. Atap besar terbuat dari daun lontar. Didalamnya terdapat perapian yang terletak di tengah rumah. Disebut rumah drum karena salah satu rumah digunakan untuk menyimpan drum pusaka suci dan gong yang merupakan media sakral klan untuk berkomunikasi dengan nenek moyang.

Bentuk bangunan Mbaru Niang yang berbentuk kerucut, melingkar dan berpusat di tengah diyakini melambangkan persaudaraan yang tidak pernah putus di Wae Rebo dengan leluhur mereka sebagai titik pusatnya. Pada kenyataannya memang warga Wae Rebo tidak melupakan leluhurnya seperti yang tertuang dalam ungkapan “neka hemong kuni agu kalo” yang bermakna “jangan lupakan tanah kelahiran”.

Mbaru Niang dibuat dengan struktur lima tingkat. Masing-masing tingkat memiliki nama dan fungsinya masing-masing.

  1. Tingkat pertama disebut lutur yang berarti tenda, lutur berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga.
  2. Tingkat kedua disebut lobo, sebuah loteng yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang-barang keperluan sehari-hari.
  3. Tingkat ketiga disebut lentar, yang berfungsi untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti jagung, padi dan kacang-kacangan.
  4. Tingkat keempat dinamakan lempa rae yang merupakan tempat yang disediakan untuk menyimpan stok pangan jika terjadi kekeringan.
  5. Tingkat terakhir dinamakan hekang kode yang berfungsi untuk menyimpan langkar, sebuah anyaman bambu berberntuk persegi untuk menyimpan sesajian yang akan digunakan untuk persembahan kepada leluhur. Semua tingkat dan fungsinya masih ada dalam setiap Mbaru Niang dan terus dipertahankan hingga saat ini (https://kalamantana.com/articles/flores/wae-rebo-kampung-di-atas-awan/)

mbaru.png

Mbaru Niang tampak dalam (sumber gambar :  google)

Mbaru Niang dikelilingi oleh lahan yang luas dan hijau dikelilingi bukit-bukit yang indah. Udara pagi di Wae Robo terasa sangat sejuk. Udara dingin lembut ditemani kabut tipis dikejauhan sangat menyenangkan hati.

“Di Wae Rebo, semua berbentuk bulat, mulai dari gunung tempat tinggal mereka, kampung yang melingkar, hingga rumah. Masyarakat Wae Rebo percaya, di dalam bulat ada keadilan,”

Titik pusat Kampung Wae Rebo berada di batu melingkar di depan rumah utama yang disebut compang. Pintu tiap rumah adat dibangun menghadap ke compang. Compang merupakan pusat aktivitas warga untuk mendekatkan diri dengan alam, leluhur, serta Tuhan. Penghormatan terhadap ketiga unsur diwujudkan dalam berbagai upacara adat yang sampai kini rutin dilakukan. Salah satunya upacara menyambut pergantian tahun yang disebut penti.

Keseharian warga Wae Rebo merupakan petani kopi dan pengrajin kain tenun cura. Saat musim panen, warga menjemur biji-biji kopi di halaman di antara rumah-rumah niang. Pengunjung yang datang bisa mengikuti kegiatan menumbuk kopi dengan ibu-ibu, memetik kopi dari kebun kopi dengan para lelaki bahkan bisa melihat ibu-ibu menenun kerajinan kain cura yang biasanya dilakukan di depan rumah. Laki-laki Wae Rebo biasanya turun ke Pasar Kombo di Denge di hari Minggu, membawa hasil perkebunan berupa kopi. Kopi yang dibudidayakan jenis Robusta dataran tinggi. Hasil penjualan kopi digunakan untuk membeli bahan kebutuhan pokok, seperti beras dan lauk pauk. Sementara, Kain cura yang dikerjakan oleh masyrakat Wae Rebo berciri-ciri warna cerah.

wae-rebo-0602

Anak-Anak bernyanyi di Wae Rebo (sumber gambar : google)

11909127_886514324735767_1136456398_n

Kain Cura, hasil tenun masyarakat Wae Rebo (sumber gambar : google)

Untitled-2.jpg

Kopi Robusta, Rakata, Waerebo (sumber gambar :google)

Ada satu tradisi yang biasa dilakukan warga Waerebo yaitu Ritual penti. Ritual ini merupakan ritual tradisional yang masih dilakukan secara lengkap sebagaimana ritual aslinya. Ritual penti adalah ritual adat Manggarai yang digelar sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama setahun. Bagi masyarakat Manggarai, penti juga sekaligus merupakan peringatan untuk menyambut tahun baru.

Upacara Penti biasanya dilakukan saat dimulainya kegiatan bercocok tanam atau berladang. Kegiatan ini adalah kewajiban turun-temurun, yang harus dijalankan sebagai wahana rasa syukur, berkumpulnya keluarga besar, serta pemberkatan terhadap kelestarian alam sekitar.

Gendang sakral mulai ditabuh. Alunan musik tradisional yang khas dan nyanyian budaya menandakan upacara adat ini mulai diselenggarakan. Di dalam ppacara adat Penti juga ada pertunjukan tarian Caci, yang merupakan tarian perang masyarakat Manggarai. Hal yang menarik dari tarian ini adalah warga yang ikut serta akan memakai pakaian dan atribut khusus khas Manggarai.

Caci bisa diartikan sebagai memukul dan menangkis secara berbalasan, satu lawan satu. Tarian caci tidak hanya diadakan saat upacara penti, tairan ini juga diadakan saat lamaran nikah, penyambutan tamu agaung dan acara adat lainnya. Tarian caci merupakan ekspresi budaya tradisional Manggarai yang mengusung tema “Cai Nai Latang Manggarai”, yang artinya satu hati untuk Manggarai.

Kesenian tarian caci mempunyai bentuk musik yang sederhana, akan tetapi mempunyai unsur musikal yang kuat. Tarian caci mempunyai gerak tari, syair, lagu-lagu khusus yang tidak dimiliki kesenian lain. Kombinasi alat yang digunakan dalam tarian caci adalah gendang dan gong.
wae-rebo-0635

Tarian Caci menggunakan alat musik gendang dan gong (sumber gambar:google)

untitledgong

Tim RoFA melihat tarian gong Waerebo (sumber gambar : youtube RoFA)

Demikianlah, beberapa tempat menawan yang menjadi bagian Kekayaan Indonesia. Tetapi tentu saja masih banyak surga-surga tersembunyi di wilayah timur Indonesia. Untuk menggali itu semua, dengan adanya program Ring of Fire Adventure (RoFA) ini sangat berarti dan usaha serta kegigihan Bapak Youk Tanzil membuat dokumenter patut diapresiasi.

Semua keindahan wilayah timur Indonesia memang tiada tara. Semoga saya berkesempatan menapakkan kaki disana, tidak hanya sekedar melihat tayangan di Kompas TV.

Terima kasih kepada teman penulis sebagai narasumber yang pernah berkunjung ke sana, sumber gambar yang penulis dapatkan dari google, dan berbagai referensi untuk menyelesaikan penulisan ini.

Akhirnya, seperti apa yang diucapkan Bapak Youk Tanzil,”Marilah kita melihat, mengenal, mengerti dan mencintai tanah air kita, entah di belahan bumi bagian barat atau timur.. Mari kita mempunyai energi, sukacita, keberanian, kehangatan dalam persahabatan dan persatuan yang senantiasa bergulir tak berhenti seperti simbol Api Melingkar dari Tim RoFA di bumi Indonesia kita tercinta ini.

“neka hemong kuni agu kalo”
We are many, we are one Indonesia .. 

we-are

Tulisan ini diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition  bersama Kompas TV
gramedia

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s